Mengapa Pengurus NU Sekarang Mudah Tergiur Jabatan? Ini Jawaban Cak Anam Sesepuh NU

Sabtu, 2 Maret 2019

Faktakini.com, Surabaya - Rais Aam itu ibarat ‘jantung’ NU. Sejak dulu, Rais Aam itu, irit bicara. Begitu bicara, diikuti umat.

Tetapi, setelah Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang, wibawa Rais Aam PBNU runtuh, tidak mampu menghadapi politik kekuasaan.

“Sekarang tidak ada wibawa. Saya sangat prihatin melihat KH Ma’ruf Amin di mana-mana dibully orang karena banyak bicara,” demikian disampaikan Drs Choirul Anam, Dewan Penasehat Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKN) kepada wartawan sesaat sebelum Bedah Buku ‘NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan, Siapa Bertanggung Jawab’, Selasa (26/2/2019) di Graha Astranawa, Surabaya.

Masih menurut Cak Aman, panggilan akrabnya, semenjak Rais Aam KH Sahal (KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh) wafat, pertahanan khitthah NU ‘jebol’. Akhirnya banyak pengurus NU yang berorientasi kekuasaan.

Mengapa? Pertama, karena NU sudah dimenajemeni seperti Parpol, mengejar kekuasaan. Akibatnya, pengurus NU yang sudah dibaiat memegang teguh amanah organisasi, mudah lompat demi kekuasaan.

“Nah, yang paling bertanggungjawab dengan rusaknya NU sehingga berorientasi kekuasaan adalah para politisi, khususnya politisi dari PKB,” tegas Cak Anam.

Selain Kiai Ma’ruf yang melepas baiat memilih menjadi Cawapres, banyak ucapan dan tindakan pengurus NU yang tidak peduli dengan khitthah, dan semua itu demi kekuasaan.

Dicontohkan, KH Marzuki Mustamar Ketua PWNU Jatim, sebelum terpilih dia teken kontrak sanggup  menjaga AD/ART, melaksanakan qonun asasi, kemudian tidak akan melibatkan diri baik secara langsung atau tidak langsung dalam jabatan politik.

“Tapi lihat ngomongnya apa? Katanya, sekarang ini kita sedang perang ideologi. Pilpres ini disebut sebagai perang ideologi. Omongan seperti ini harus dibuktikan, musuhnya siapa? Mana ada kelompok yang mau memerangi NU,” tegasnya.

Kedua, Pengurus NU sudah tidak berpegang teguh pada wasiat Mbah Hasyim Asy’ari. “NU itu barang mewah tolong selamatkan. Saya titipkan dan jaga dengan baik. Tapi, oleh pengurus NU yang senang politik seperti KH Marzuki Mustamar ditaruh di tempat sampah dan diambil pemulung. Jadi jangan salahkan pemulung,” tambahnya.

Bagaimana cara menjaga NU?  Letakkan NU di atas khittah, maka tidak akan ada yang berani mengusik NU, sebab itu warasatul ambiya’ yang silsilahnya sampai Rasulullah, tegas Cak Anam.

Ketiga, Sudah tidak peduli AD/ART. Yang ada formalitas belaka. “Kalau Munas dan Konbes cuma agar dibuka Jokowi dan ditutup Pak JK, itu percuma. Hanya formalitas dan arahnya sudah bisa ditebak, politis.”

Bahkan lebih ironis lagi, tambah Cak Anam, NU struktural sekarang semuanya bicara harus memenangkan Jokowi karena Jokowi mau menggandeng ulama. Dan kalau tidak mendukung, sama saja dengan murtad.

“Coba bayangkan, ini mengerikan. Padahal warga NU itu dari dulu diakui karena amalianya, bukan karena dukungannya,” jelasnya.

Harus Jadi Ajang Klarifikasi

Masalah keagamaan ini juga menjadi problem tersendiri. Sekarang warga NU mempersoalkan fatwa KH Ma’ruf Amin mengenai dibolehkannya memberikan Selamat Natal. Ini jangan dianggap enteng. Begitu juga sebutan ayat shummum bukmun ‘umyun yang disematkan kepada warga bangsa yang tak mau mengakui prestasi Jokowi, ini maksudnya apa? Seperti ini harus dijelaskan di Munas.

“Begitu juga soal penggunaan dana haji untuk pembangunan infrastruktur yang diteken KH Ma’ruf Amin, ini juga harus dijelaskan di Munas, hukumnya seperti apa? Menjadi ironi kalau persoalan ini justru tak dibahas, padahal sedang dibicarakan umat Islam di Indonesia termasuk nahdliyin,” ungkap penulis sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan NU ini.

Masih menurut Cak Anam, warga NU sekarang ini terbelah. Ini akibat dari Jokowi yang mencomot rais aam tanpa musyawarah. Padahal rais aam itu jantungnya NU, diambil begitu saja, sehingga lumpuh.

“Yang menjadi persoalan, apakah boleh Presiden melakukan itu? Ini sebetulnya juga harus dijelaskan Presiden Jokowi kepada umat NU, sebab, jika tidak, umat NU akan terbelah bahkan bertarung sesama warga NU karena pimpinan tertingginya dicomot. Ini harusnya dibahas Munas dan Konbes NU,” tegasnya.

Sumber:

https://duta.co/mengapa-pengurus-nu-sekarang-mudah-tergiur-jabatan-ini-jawaban-cak-anam/

0 Response to "Mengapa Pengurus NU Sekarang Mudah Tergiur Jabatan? Ini Jawaban Cak Anam Sesepuh NU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel