Sepiii Beritanya di Media: Aksi Demo Awak Mobil Tangki (AMT) Pertamina Depan Istana

Jum'at, 11 Januari 2019

Faktakini.com, Jakarta - Ratusan awak mobil tangki (AMK) PT Pertamina kembali menggelar aksi unjuk rasa dan menginap di Jalan Medan Merdeka, Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat.
Sejumlah sopir truk atau awak mobil tangki (AMT) Pertamina melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara, Jakarta, 10 Januari 2019. Dalam aksi tersebut mereka meminta upah lembur untuk dibayarkan dan pembatalan pemecatan sepihak. TEMPO/M Taufan Rengganis

Sejumlah sopir truk atau awak mobil tangki (AMT) Pertamina melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara, Jakarta, 10 Januari 2019. Mereka menyatakan akan terus melakukan aksi kubur diri ini hingga Presiden Joko Widodo menemui mereka.


Sejumlah sopir truk atau awak mobil tangki (AMT) Pertamina melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara, Jakarta, 10 Januari 2019. Dalam aksi tersebut mereka meminta upah lembur untuk dibayarkan dan pembatalan pemecatan sepihak. TEMPO/M Taufan Rengganis

Sejumlah sopir truk atau awak mobil tangki (AMT) melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara, Jakarta, 10 Januari 2019. Dalam aksi tersebut mereka meminta upah lembur untuk dibayarkan dan pembatalan pemecatan sepihak. TEMPO/M Taufan Rengganis


Sejumlah sopir truk atau awak mobil tangki (AMT) Pertamina melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara, Jakarta, 10 Januari 2019. Dalam aksi tersebut mereka meminta upah lembur untuk dibayarkan dan pembatalan pemecatan sepihak.

Para pengunjuk rasa long march dari Tanjung Priuk, Jakarta Utara itu, Rabu pagi, (9/1).

Mereka berjalan menuju Istana Negara tanpa alas kaki dan membawa empat keranda.

Para pengunjuk rasa juga mengusung umbul-umbul, spanduk berisi tuntutan, serta dua buah mobil komando. Satu mobil komando tempat sound system, satu lagi membawa peralatan mendirikan tenda untuk menginap.

Dwi, salah seorang pengunjuk rasa, mengatakan sasaran aksi mereka adalah kantor Kementerian BUMN dan Istana Negara.

"Kami akan kembali menginap. Tuntutan kami pada aksi yang lalu tidak digubris. Tidak ada respon sama sekali," tutur Dwi seperti dilansir Kantor Berita Politik RMOL.

Dia mengatakan, peserta aksi kali ini jumlahnya tidak jauh beda dengan aksi menginap akhir tahun 2018 lalu. Kita masih sekitar 500-an orang lebih,” ujarnya.

Aksi long march yang digelar sejak pagi hari itu membuat arus lalu lintas tersendat. Sejumlah petugas kepolisian tampak sibuk melakukan pengawalan terhadap peserta aksi.

Koordinator aksi AMT, Legiran menyampaikan, mereka turun kembali ke jalan karena tidak didengarkan oleh para petinggi.

Memasuki tahun ketiga ini, mereka masih memperjuangkan upah lembur yang tak kunjung diberikan. Para pekerja yang masuk kategori pekerja BUMN itu pun tidak mengerti lagi bagaimana menuntut hak-hak mereka, selain menggelar aksi unjuk rasa.

"Tidak direspon. Kami akan terus aksi sampai tuntutan kami dipenuhi," ujar Legiran.

Ada sebanyak 2119 awak mobil tanki yang tidak mendapatkan upah lembur selama dua tahun lebih. Menurut dia, semuanya bekerja di sekitar Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara dan di beberapa bagian yang diperintahkan.

Sebelum aksi-aksi menginap ke kantor Kementerian BUMN dan Istana Negara, kata Legiran, mereka juga sudah pernah menggelar aksi mogok.

Aksi mogok itu dilakukan di depan salah satu jembatan Terminal BBM Plumpang. Aksi itu berlangsung hingga 26 Juni 2017 lalu.

Alasan utama aksi, karena ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak terhadap sebanyak 353 AMT. Mereka dinyatakan tidak lulus seleksi lagi oleh perusahaan outsourcing.

Sebanyak 353 AMT dirumahkan dengan alasan tidak lulus seleksi itu membuat berang para pekerja. Sebab, sekitar 900 diangkat sebagai pegawai tetap. Alasan PHK terhadap 353 AMT dinilai tidak masuk akal.

"Ada 353 di-PHK dengan dalih tidak lulus seleksi dari 1.200 orang," ujarnya.

Dia menuturkan, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) -tempat mereka bekerja- juga menggunakan jasa perusahaan pemborong pekerjaan alias vendor baru yaitu PT Garda Utama Nasional. Tujuannya agar AMT yang sudah lama bekerja tak langsung menjadi pegawai tetap, melainkan harus mengikuti seleksi lagi.

"Mayoritas sudah puluhan tahun kerja tapi kayak karyawan baru. Karyawan tetap tapi enggak diakui masa kerja sebelumnya,” tuturnya.

Selain itu, para AMT juga menuntut adanya tambahan upah lembur bagi mereka yang bekerja di atas delapan jam. "Kita juga enggak pernah dapat lembur,” kata Legiran.

Sementara itu, pihak perusahaan outsourcing sudah merasa memenuhi hak-hak AMT. Bagian Operasi PT Sapta Sarana Sejahtera (SSS), mitra outsourching PT PPN, Abdul Choir mengatakan, gaji dan kesejehtaraan AMT yang mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM) Pertamina sebenarnya cukup bagus. Paling tidak mereka menerima penghasilan di atas upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta.

AMT bekerja sesuai perjanjian dan ada waktu istirahat yang cukup. "Selain itu juga mendapatkan pelayanan dan kesejahteraan kesejahteraan lainnya," sambung Abdul Choir.

Dia menyebutkan, ada sekitar 1.200 orang AMT bekerja di bawah kendali SSS. Mereka menjadi AMT yang mendistribusikan BBM khususnya dari Depo Plumpang ke sejumlah SPBU di wilayah DKI Jakarta, sebagian Tangerang, Banten, dan sebagian Jawa Barat.

Dari jumlah tersebut, sekitar 800 orang AMT bekerja dalam dua shift setiap hari. Selebihnya ada sekitar 400 orang yang off atau libur.

Para AMT itu sesuai perjanjian kerja bersama (PKB) bekerja 12 jam dan tidak ada waktu lembur. Mereka bekerja selama enam hari kerja dan tiga hari off. Jadi, mereka bisa bekerja optimal dan waktu istirahat yang cukup,” jelas Choir.[wid]
RMOL. Masa tanggap darurat bencana tsunami di Lampung Selatan diperpanjang 14 hari sejak Senin (6/1) lalu.

Sumber: Rmol

0 Response to "Sepiii Beritanya di Media: Aksi Demo Awak Mobil Tangki (AMT) Pertamina Depan Istana"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel