Hubungan NU Dan FPI Bagaikan Ayah Dan Anak

Selasa, 6 November 2018

Faktakini.com

NU DAN FPI Bagaikan Ayah dan Anak

Biasakan membaca sampai tuntas agar tidak gagal paham. Semoga tidak ada lagi perpecahan, saling hasut menghasut, saling mendengki, saling merendahkan, terlebih saling melaknat.
Na’uzubillah.

Sadarlah, bahwa kita adalah umat muslim, yang diibaratkan oleh Nabi seperti satu tubuh, yang lain akan merasakan sakit jika ada bagian tubuh yang sakit.

Bacalah tulisan ini dengan hati yang bersih, jauh dari kebencian. Ini tulisan tentang *NU & FPI* ormas yang memiliki pengikut jutaan umat muslim di Indonesia.

Di mulai dari tanggal berdirinya, profil kedua pendiri, dilanjutkan dengan kesimpulan. Semua di tulis dalam kata-kata yang singkat dan padat.

*Awal Mula Pembentukan*
Jam’iyyah Nahdhatul Ulama’ didirikan pada 31 Januari 1926 oleh *Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari*, sedang Ormas FPI didirikan pada 17 Agustus 1998 oleh *Imam Besar Al Habib Rizieq Bin Husein Bin Shihab*

Untuk memahami kedua ormas tersebut, salah satunya dengan mengenal sosok pendiri kedua Ormas tersebut yaitu Hadrotus syekh KH. Hasyim Asy’ari & Imam Besar Al Habib Rizieq Bin Husein Bin Shihab.

*Dalam Hal Keilmuan, Akidah, dan Mazhab*

Tentang ke’aliman sang pendiri NU Hadrotus syekh KH. Hasyim Asy’ari, tak ada yang meragukan. Ahli hadits (hafal kutub sittah), pahlawan nasional, murid dari sang wali besar Syaikhona Kholil Bangkalan. Ketegasan dalam memberikan Resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945, merupakan bukti bahwa beliau adalah seorang tokoh yang tegas, nasionalis, dan anti penjajahan.

Sedangkan untuk pendiri FPI, Al Habib Rizieq Bin Husein Bin Shihab, seorang habib yang didalamnya mengalir darah datuknya Nabi Muhammad SAW ke 38.

Adapun tentang Kemuliaan Ahlul Bait (Habaib) tak dapat dibantah (baca surat Al Ahzab ayat 33). Untuk bidang keilmuan secara akademis beliau adalah seorang Doktor dengan prediket Cumlaude.

Dalam akidah dan Mazhab, sama-sama berpaham Asy’ari Maturidi, sama-sama bermazhabkan Syafii. Jadi tak ada perbedaan.

*Sanjungan Ulama Kepada Mereka*

Tentang Hadrotus syekh KH. Hasyim Asy’ari, cukuplah dengan kedatangan gurunya sang wali besar syaikhona kholil ke pondok KH. Hasyim Asy’ari di tebuireng, untuk berguru pada KH. Hasyim Asy’ari yang dulu adalah muridnya. Ini menegaskan bahwa beliau adalah seorang maha guru, karena itu beliau di juluki Hadrotus syekh.

Adapun sanjugan ulama kepada Al habib Rizieq pendiri FPI, cukuplah dengan ucapan sang wali besar Al ‘Arif Billah Al Habib Salim Bin Abdullah As Syatiri, guru daripada Al Habib Umar Bin Hafidz, beliau berkata dalam haul ayahandanya Al Qutb Al Habib Abdullah Bin Umar As Syatiri “Bahwa para habaib, ulama, sholihin, serta aulia banyak sekali di bumi ini termasuk di Indonesia. Akan tetapi, sangat jarang sekali ada seorang habib yang berani seperti habib rizieq. Mungkin adanya hanya 800 tahun sekali itu juga dulu ketika zaman Al Imam Faqih Al Muqoddam Muhammad Bin Ali Ba’lawi” (betapa beruntungnya umat islam Indonesia saat ini, dikaruniai seorang habib istimewa yang hanya ada 800 tahun sekali)

Selain sanjungan dari Sultonul Ilmi Al Habib Salim As Syatiri, sanjungan juga diberikan oleh Al ‘Arif Billah Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa pendiri Majlis Rasulullah SAW yang anggotanya jutaan, beliau berkata “Saya mencintai Habib Rizieq dan saya sangat menghormatinya. Beliau seorang yang bersemangat dan berjiwa baja membela kebenaran” ungkapnya lagi ”Habib Rizieq adalah habib nomor satu di Indonesia yang paing bersemangat menegakkan kebenaran.

Tentang FPI
“Sebenarnya FPI bukan gerakan garis keras, namun lebih tepat disebut gerakan garis tegas”

*KESIMPULAN*
Setelah mengenal profil kedua pendiri ormas tersebut, maka jangan mau dibenturkan sesama muslim, karena bila ini terjadi karugian hanya akan berada dipihak kaum muslimin.

Jangan ada pihak yang merasa paling benar, paling NKRI, karena sejatinya kita semua cinta pada bangsa ini.

Tidak ada yang menginginkan bangsa ini kembali dijajah. Sekali lagi jangan mau diadu domba sesama umat islam.

Mengapa di pihak NU saat ini banyak pergesekan serta perbedaan cara pandang dalam situasi saat ini?
Jawabnya, “Karena para pendiri NU sudah tiada lagi ditengah-tengah mereka, berbeda dengan FPI yang memang pendirinya masih ada ditengah-tengah mereka".

Islam dimasa Nabi SAW bersatu, dan bila ada perbedaan mereka langsung bertanya pada Nabi SAW, namun setelah meninggalnya Nabi SAW, islam mulai terpecah dan mencapai puncaknya pada masa khalifah Ali Bin Abi Thalib.

Jadi adanya perbedaan cara pandang setelah kepergian para pendiri adalah sesuatu yang lumrah terjadi.

Bagaimana kita menyikapi polemik saat ini?

Setiap problematika yang terjadi, jangan disalahkan organisasinya, tapi salahkan oknum atau pihak yang melanggar.

Tidak ada alasan untuk menghina NU juga FPI, kedua ormas tersebut memiliki visi misi yang jelas. Anda menghina NU, anda dihadapkan pada kekeramatan NU, yang didirikan oleh para wali-wali Allah. Anda menghina FPI, anda dihadapkan dengan para habaib, para cucu baginda Nabi SAW.

Jasa NU terhadap bangsa ini sangat besar, begitu juga FPI dalam membantu para korban bencana, terutama  pasca tsunami di Aceh.

Semoga Allah SWT menjadikan umat islam Indonesia bersatu, tidak mudah dipecah, tetap berpegang pada prinsip dan khittahnya, semoga Allah SWT meridoi kita semua.

0 Response to "Hubungan NU Dan FPI Bagaikan Ayah Dan Anak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel