Miftah Cucu Asli Bung Hatta Bela Sandiaga Uno Dari Serangan Fitnah

Sabtu, 27 Oktober 2018

Faktakini.com

Surat Terbuka Kepada Adikku Gustika Yusuf Hatta
Oleh Miftah N. Sabri

Selamat Malam Gustika Sayang, perkenalkan namaku Miftah Sabri.Aku juga cucu dari Drs Muhammad Hatta. Proklamator Republik Indonesia. Meskipun kita sama sama cucu, tapi kita belum pernah bertemu.

Gustika jangan kaget. Aku cucu dari anak Bung Hatta yang mana. Anak Bung Hatta itu banyak, bukan hanya Ibumu Halida, atau Tantemu Gemala, dan Mutia. Banyak anak-anak Bung Hatta yang lain. Tidak berbilang.

Aku putera dari anak Bung Hatta yang mana, nanti engkau akan mengerti sendiri, seiring dengan berjalannya waktu, dan tubuhmu disapa usia,. Engkau semakin dewasa dengan pengalaman hidup. Meskipun demikian Aku tak perlu melekatkan nama Hatta di belakang namaku. Tidak perlu. Karena Datuk selalu ada dalam hatiku.

Apalah arti sebuah nama. Jika mawar itu bukan mawar namanya, dia tetap setangkai bunga.

Tapi tidak mengapa. Tuhan selalu menciptakan sebab untuk sebuah pertemuan. Mudah-mudahan setelah tulisan ini, kita bisa bertemu. Bertemunya dua cucu dari satu Datuk yang sama setelah tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

Biar sedikit lebih enak, ada baiknya kita berkenalan dulu. Kata orang di kampung kita, Bukitinggi, Sumatera Barat, sana, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.

Mungkin yang Gustika sayang tahu, anak Datuk kita cuma tiga. Ibumu, dan dua tantemu. Ada sejarah hilang yang Gustika mungkin perlu telusuri lagi. Jauh sebelum menikah dengan Ibu-nya Ibumu. Bung Hatta sudah terlebih dahulu mengikat janji setia dengan perempuan lain. Dialah Nenekku. Ibu pertiwi namanya.

Setelah Ibu pertiwi ini merdeka, barulah Datukmu yang juga datukku itu menikah dengan Eyang Rahmi di Mega Mendung. Jadi Eyang Rahmi adalah perempuan kedua dalam hidup Datuk kita. Bahkan pernikahan dengan Eyang Rahmi didahului "Sumpah Hatta". Ia bersumpah tak akan menikah sebelum Ibu Pertiwi merdeka. Sumpah itu dilaksanakannya. Datuk menikahi nenekmu, cinta keduanya.

Sementara Nenekku, adalah cinta pertamanya. Tapi tidak mengapa. Itu memang takdir yang harus kita jalani. Jodoh. Rejeki. Maut ada di tangan Tuhan. Saking banyaknya anak Datuk dari Ibu pertiwi ini, kita sampai sampai tak bisa lagi kenal satu sama lain.

Semoga kita bisa ketemu suatu saat dan bicara bicara. Membagi kenangan kita masing masing tentang Datuk yang kita cintai.Apa cerita ibumu tentang Datuk. Dan apa cerita Ibuku tentang Datuk.

***

Gustika Sayang, Baiklah, Aku perkenalkan diriku. Supaya engkau bisa menyayangiku. Kata orang di kampung kita, jika sudah kenal dan sayang, mungkin engkau akan rileks membacanya.

Sehingga jika ada kritik engkau bisa menerimanya. Tidak marah padaku. Bukankah kritik adalah vitamin kemajuan dengan menulis surat ini aku inhin mengkritikmu. Memberimu vitamin sehingga engkau maju.

Namaku Miftah Nur Sabri.Dalam bahasa Arab artinya Kunci Cahaya Kesabaran. Aku tumbuh di kampung halaman, menghabiskan masa kanak-kanak yang sama dengan Datuk. Menatap Gunung Merapi dan Singgalang setiap membuka jendela rumah leluhur kita di pagi hari di Bukittinggi sana.

Rose City kata Datuk dalam memoir. Kota yang Indah bagai mawar. Lihat saja kota itu dari jauh. Indah. Namun orang-orangnya kritis-kritis. Sehingga jangan sentuh sentuh: berduri.

Mungkin berbeda dengan engkau, tumbuh dan mekar di negeri asing. Aku tingggal di kampung seperti Datuk. Sebagaimana Datuk , waktu kecil kami mengaji di surau.

Jika kami dalam pergaulan sehari hari bercarut semasa kecil, maka lidah kami kanai lado (kena cabe) oleh Ibu pertiwi. Bercarut itu artinya ngomong jorok. Misalnya menyebut: Pante*. Hanjian* Kaler*. (umpatan umpatan pasar orang Minang).

Nah, jika Datuk hidup, dan ketahuan kamu ngetwit carut fuc*, anjiiiin*, Aku yakin Datuk akan sangat marah denganmu. Mungkin kamu akan langsung dilado (dicabai) oleh Datuk. Dicabe dengan tanggannya sendiri.

Kenapa begitu? Karena kamu sudah melanggar tradisi dalam keluarga kita. Beradat dalam berkata. Sopan dalam menulis dan bicara. Rasional dalam bertindak. Jauh dari sifat emosi yang membunuh akal.

Sama dengan Datuk, ketika remaja akhir dan dewasa Awal, kami sama-sama merantau ke Jawa. Datuk belajar ekonomi dan hitung dagang. Aku belajar ilmu politik dan hitung-hitungan hidup.

Karena terinspirasi Datuk menjadi aktivis mahasiswa ketika kuliah, aku pun menjadi aktivis mahasiswa. Datuk permah datang menjadi pimpinan mahasiswa Indonesia dalam liga-liga menentang imperialisme.

Akupun pernah mewakili Indonesia dalam pertemuan liga pemuda dunia. Datuk terjun ke politik dalam usia muda, akupun meniru-niru Datuk. Obsesi dengan langkah langkah datuk, akupun terjun dalam politik dalam usia yang juga muda.

0 Response to "Miftah Cucu Asli Bung Hatta Bela Sandiaga Uno Dari Serangan Fitnah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel