Mengharukan! Kisah Aridi Relawan FPI, Mengevakuasi Mayat Hingga Sakit, Lalu Meninggal

Ahad, 7 Oktober 2018

Faktakini.com, Jakarta - Tidak biasanya Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, menjawab pertanyaan melalui telepon selular dengan nada bergetar. Biasanya, dia selalu tegar.

''Aridi telah pergi. Dia meninggal sebagai syahid!'' kata Habib Rizieq Shihab ketika ditanya atas meninggalnya seorang relawan FPI, Kamis (20/1/2005) dinihari, di Cirebon, Jawa Barat.

Aridi (45 tahun) meninggal setelah mengevakuasi mayat korban bencana alam di provinsi itu.

Habib Rizieq mengatakan Aridi telah bertugas selama seminggu di Aceh. Selama itu, almarhum membantu mengevakuasi mayat di banyak tempat seperti di Ulee Lheu, Lhok Nga, Ajun, Ponge, dan Blang Cut.

Selama di Aceh, salah satu pendiri FPI Cirebon itu, cerita Habib Rizieq, telah melakukan kerjanya dengan penuh semangat. Dari pagi sampai siang Aridi kerja mengubur dan mencari jenazah. Rizieq menyatakan ia pun sering lupa makan, dan tampaknya itulah yang membuat dia jatuh sakit.

Aridi adalah anggota rombongan relawan FPI yang datang pertama kali di Banda Aceh. Untuk sampai ke sana, mereka harus menumpang kapal selama lima hari lima malam. Mereka diturunkan di Pelabuhan Lhokseumawe dan kemudian meneruskan perjalanan dengan truk terbuka ke Banda Aceh selama dua belas jam.

Koordinator Nasional FPI, Hilmy Bakar, mengatakan Aridi dan rekan relawan lainnya harus berhujan-hujanan dalam perjalanan ke Banda Aceh. Perjalanan itu, kata dia, memang menguras tenaga. Kalau kecapaian dan kebetulan fisiknya lagi drop (turun), tegasnya, ya jelas sakit. Habib Rizieq mengungkapkan beberapa kali Aridi sempat jatuh pingsan. Untuk memulihkan kesehatannya, FPI menyerahkan penanganannya kepada relawan medis yang tergabung dalam Mer-C. ''Setelah dirawat Mer-C, dia pulih kembali. Kata dokter, akhi Aridi hanya kecapaian. Ia kemudian diminta istrirahat selama tiga hari,'' kata Rizieq.

Meski dokter sudah meminta bapak ini istirahat, hal itu malah membuatnya jengah. Dia merasa tidak betah karena harus menganggur, sementara rekan-rekan relawan FPI lainnya sibuk bekerja. Aridi pun meminta pulang. Dalam kondisi lemah, ia diantar rekannya sesama FPI Cirebon menumpang pesawat Hercules. Tiba di Jakarta, ia langsung balik ke Cirebon. Ternyata, kata Habib Rizieq, Aridi pulang untuk selamanya.

Tiga hari beristirahat di kampungnya, kesehatan Aridi sebetulnya sempat membaik. Tiba-tiba, tutur Habib Rizieq, pada Kamis malam itu ia pingsan lagi dan tidak tertolong. Kerja mengevakuasi mayat seperti yang dilakukan Aridi itu jelas bukan kerja main-main. Banyak relawan di Aceh yang kini hanya menjadi turis lokal karena ngeri ketika diminta menjadi tim pengevakuasi mayat. Apalagi, mayat yang sudah terendam air selama tiga pekan sudah susah diangkat. Banyak tubuhnya yang tidak lengkap lagi dan anggota badannya pun kerap kali jatuh tercerai-berai ketika diangkat.

Belum lagi kabar santer mengenai penyebaran bakteri dan ancaman infeksi tetanus. Hal inilah yang membuat banyak relawan lebih memilih menghindari kerja yang dilakukan Aridi bersama 1.200 anggota FPI lainnya. Seorang rekan kerja Aridi, Matsuni, mengatakan kerja mengangkat mayat itu layaknya kerja bertaruh nyawa. Selain harus siap tenaga ekstra, dukungan fisik yang kuat merupakan syarat mutlak. Apalagi, jika mengevakuasi di daerah penuh dengan bangunan rubuh yang digenangi air.

Kalau wilayah kerja tidak terlalu tergenangi air, kata Ustadz Matsuni, mereka bisa bekerja cepat. ''Sehari bisa 400 jenazah yang kami evakuasi,'' tandasnya. Pada kenyataannya, mereka hanya bisa mengangkat rata-rata 200-250 jenazah per hari.

Hingga kini (;Hasil sementara saat itu) FPI telah evakuasi sekitar 6.000 mayat. Terkait nasib keluarga almarhum Aridi, Habib Rizieq mengatakan dalam beberapa hari ke depan akan ada utusan ke rumahnya. Yang pasti, tegasnya, selain memberikan sumbangan dan menyatakan rasa bela sungkawa, FPI juga akan memberikan beasiswa bagi seluruh anaknya.

Cerita relawan yang sakit memang tak hanya terjadi pada FPI. Bebeberapa relawan dari Medan dan Jakarta juga terkena penyakit kulit dan gatal-gatal. Gatal-gatal tersebut berasal dari percikan cairan tubuh jenazah yang dievakuasi. Begitu juga yang dialami tim evakuasi dari Universitas Malikul Saleh yang tergabung dalam Posko Bencana Aceh (PBA). Mereka mengaku sudah terjangkit gatal-gatal sejak Jumat (7/1).

Presiden Susilo Bambang Yudhono menargetkan pembersihan jenazah di Nanggroe Aceh Darussalam selesai pada pertengahan Januari ini. Fakta di lapangan berkata lain. Berbagai kendala menghadang kerja kemanusian itu, mulai dari ketiadaan dukungan peralatan berat hingga minimnya tenaga relawan yang bersedia melakukan kerja tersebut.

Dari sekitar 137 kelompok relawan yang sekarang beroperasi di Aceh, misalnya, hanya sekitar lima belas kelompok yang melakukan kerja mengangkut mayat. Yang lainnya, memilih kerja di bagian logistik pengungsi. Banyak juga yang sekadar jalan-jalan dan berfoto-foto. Jalur pengabdian yang 'terjal' itulah yang didaki oleh Aridi bersama rekan relawan FPI lainnya.

Meski mereka datang dari berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Ambon, dan lainnya, semuanya bekerja dengan kompak.

Cara kerja mereka dibagi dalam 12 kelompok yang terdiri atas 80 orang. Pembagian kerjanya dilakukan dengan sistem shift. Dalam sehari dilakukan tiga kali pergantian kerja. Hingga Jumat (21/1) kemarin, evakuasi mayat sudah mencapai lebih dari 90 ribu jenazah.

Sementara orang yang masih hilang mencapai 132.172 orang. Namun, bagi FPI mereka sudah bertekad akan terus bekerja sampai seluruh mayat korban bencana telah dimakamkan. Untuk Aridi, selamat jalan. Semoga arwahmu diterima di sisi Allah SWT. Amin.

Sumber: Republika

0 Response to "Mengharukan! Kisah Aridi Relawan FPI, Mengevakuasi Mayat Hingga Sakit, Lalu Meninggal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel