Prabowo: Saya Sudah Terbiasa Dikhianati, Namun Yang Penting Bukan Saya Yang Berkhianat

Jum'at, 7 September 2018

Faktakini.com

"Tidak mungkin menghindari pengkhianatan. Itu salah satu sifat manusia. Tapi saya tidak mau berkhianat," tegas Prabowo dalam sebuah wawancara dengan Pemimpin Redaksi Sebuah Media Masa.

"Saya sering dikhianati, saya sering dicurangi, saya sering diledek, 'Ah, Prabowo gampang dibohongi'. Yang penting saya tidak berkhianat, saya tidak curang," papar Prabowo.

Jika kita runut, berderet tokoh nasional yang mengkhianati Prabowo bahkan orang-orang yang melakukan hal tersebut adalah orang-orang yang justru dia bantu. Orang-orang yang berhutang budi kepada Prabowo.

Prabowo mengatakan, selama ini dia memiliki prinsip kepemimpinan dengan memberikan contoh kepada anak buah atau bawahan. Menurut dia, jika pemimpin tidak melakukan perbuatan negatif seperti mencuri atau berkhianat, tentu bawahannya akan melakukan hal yang sama.

"Saya jalankan hidup pakai nilai-nilai pendekar, membela kebenaran. Bagaimana bisa kalau kita curang, kalau kita berkhianat?" ucap Prabowo.

Menurut Prabowo, menjadi korban pengkhianatan malah akan menjadikan seseorang lebih waspada. Karena itu Prabowo mengaku tidak perlu "baper" atau bawa perasaan ketika menjadi korban pengkhianatan.

"Kalau mau sungguh-sungguh mengabdi, kita harus korban," kata mantan Panglima Kostrad dan Danjen Kopassus ini.

"Pengabdian itu kan pengorbanan. Korban waktu, tenaga, harta, nyawa, apalagi perasaan. Perasaan pribadi harus siap, siap disakiti, siap difitnah, siap dihina," ujar Prabowo.

Banyak yang mempertanyakan, terbuat dari apa hati prabowo?

Bagaimana Anies Bawesdan yang mencelanya selama pilpres 2014 tapi malah memberinya kesempatan menjadi gubernur DKI Jakarta. Dan untungnya Anies tipe orang yang paham hutang budi. Alhamdulillah.

Semua orang sudah tahu bagaimana dulu beliau dikhianati oleh Bu Megawati di Perjanjian Batu Tulis. Meski bermaterai sekalipun perjanjian tersebut ternyata tidak ada artinya dan pengkhianatan tersebut dilakukan dengan tersenyum.

Bagaimana Prabowo ingin agar kesenjangan minoritas dan mayoritas melebur dengan memilih Ahok menjadi pendamping gubernur DKI Jakarta jokowi.

Namun nyatanya, berkhianat pula. Bahkan sering meledek prabowo dengan kata "Duda" dan hukum karma berlaku kini diapun duda.

Bagaimana Ridwan Kamil diberikan tiket dan dibantu menjadi Walikota Bandung sehingga namanya besar. Namun nyatanya berkhianat juga dan tidak membalas jasa Prabowo kepadanya.

Pengkhianatan selanjutnya datang dari orang yang beliau didik dan dukung jadi Gubernur DKI. Kemudian berbalik melawan Prabowo di pilpres 2014. Dan yang lebih menyakitkan, dia nyinyir dan terus menghina prabowo mulai dari "Bocor...bocor" hingga lainnya. Sehingga menjadi pattern penggemarnya untuk menghina Prabowo.

Orang ini bukan cuma mengkhianati Pak Prabowo, tapi juga mengkhianati para petani Indonesia karena berjanji akan memuliakan petani tapi kenyataannya berulangkali impar-impor, mulai dari pacul, beras bahkan garam.

Orang ini juga mengkhianati rakyat jelata karena mencabut berbagai subsidi untuk rakyat kecil. Mengkhianati Janji-janji sendiri karena berjanji tidak akan ngutang lagi tapi hutang malah melonjak berkali lipat.

Namun entah kenapa Prabowo masih memuliakan orang yang jelas-jelas menusuknya dan menghina kehormatannya.

Memberikan gelar "Kesatria Utama" , memberikan karpet merah menuju rumahnya dan memujinya di hadapan semua orang serta melarang kadernya mencelanya karena presiden adalah kehormatan sebuah negara. Terbuat dari apa hatimu itu wahai Prabowo???

Masih banyak lagi deret manusia-manusia yang tidak memiliki integritas dan balas jasa. Manusia-manusia yang berpandangan bahwa politik adalah bagaimana menang dan menipu serta memanfaatkan orang lain agar tujuannya tercapai dengan melupakan bahwa hukum keseimbangan itu nyata. Baik itu dari kalangan sipil maupun militer.

Berulangkali dikhianati kawan dan ditikam lawan dari belakang, beliau tetap tersenyum dan tetap menjaga silaturrahmi. Bagi beliau kepentingan rakyat, bangsa dan negara diatas segalanya.

Tapi Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang-orang baik yang menjaga kehormatannya seperti Pak Prabowo.

Tuhan akan mengirimkan tokoh-tokoh yang baik, para ulama yang baik, para pendeta yang baik, para ustadz yang baik, Muslim yang baik, Nasrani yang baik, Hindu yang baik, Budha dan Konghucu yang baik dan semua orang Indonesia yang baik berdiri bersama sekaligus menjaga Pak Prabowo Subianto.

Salam hormat Jenderal, negara ini tidak akan pernah kekurangan orang-orang pintar dan orang-orang hebat, tapi sangat langka dengan orang-orang yang bisa menjaga kehormatannya. Orang-orang yang menjaga kehormatannya tidak akan pernah berkhianat hanya demi segenggam kekuasaan.

Saya percaya hanya orang yang bisa menjaga kehormatannya yang bisa mengembalikan kehormatan Indonesia menjadi negara bermartabat. Kami bersamamu pak, Selamatkan Indonesia kami pak!
# SayaBersamaPrabowo

1 Response to "Prabowo: Saya Sudah Terbiasa Dikhianati, Namun Yang Penting Bukan Saya Yang Berkhianat"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel