Pakta Integritas : Antara Kesabaran Dan Keteguhan Prinsip IB HRS Dan Prabowo Subianto

Selasa, 18 September 2018

Faktakini.com

*Pakta Integritas : Antara Kesabaran dan Keteguhan Prinsip IB HRS dan Prabowo Subianto*

Hari minggu, 16 September, kemarin patut dicatat sebagai peristiwa penting dan bersejarah sebagai tonggak perjuangan politik dua sosok penting di negeri ini yang dikenali sebagai bersatunya dua kekuatan oposisi, yaitu Imam Besar Umat Islam Habib Rizieq Shihab yang mewakili kekuatan besar para ulama, habaib dan santri yang tergabung dalam PA 212 dan GNPFU dengan bapak Prabowo Subianto sebagai tokoh oposisi formal yang lahir dari partai politik.

Melalui pintu Ij'tima' Ulama II, kemarin itulah bersatunya dua kekuatan besar ini terjadi. Ini dibuktikan dengan tercapainya komitmen bersama keduanya dalam sebuah Pakta Integritas yang berisi 17 poin itu.

*Kuatnya Relasi Politik*
Sebenarnya, kalau menilik dari hubungan IB HRS dengan Prabowo sangatlah dekat. Yang tercatat di publik adalah pada saat keduanya bertemu langsung pada saat merayakan kemenangan pasangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu sebagai pertarungan politik pilkada paling fenomenal.

Dalam rangka mensyukuri kemenangan politik Anies-Sandi itulah, malam itu, ketika masjid Istiqlal dipadati puluhan ribu jama'ah, Prabowo dengan tulus mengapresiasi perjuangan umat bersama ulama, habaib, kiai, dan PA 212 dengan komando IB HRS yang telah memberi andil terbesar pada proses kemenangan Anies-Sandi, di saat perhitungan dan kalkulasi politik memberikan rasa pesimis mengingat lawan tandingnya pasangan Ahok-Jarot sebagai petahana dengan diback-up politik dan dana politik yang amat kuat..

Relasi politik kedua tokoh itu, walau tidak secara langsung, makin memperoleh momentum politiknya sejak kriminalisasi IB HRS mengemuka setelah kekalahan Ahok-Jarot, sampai akhirnya memaksa IB HRS hijrah ke Mekkah, setelah merasakan adanya ancaman fisik, dari mulai tembakan yang mengarah langsung pondok pesantren IB HRS di Mega Mendung sampai peledakan bom mobil yang ditujukan pada tablig akbar di Cawang.

Relasi politik IB HRS dengan Prabowo, walaupun tidak secara langsung, namun dengan intensitas perjuangan politik ummat yang semakin kuat dan kokoh di bawah komando IB HRS, terutama sejak seruan IB berhasil merontokkan calon-calon pemimpin daerah yang disokong PDI-P pada pilkada serentak, akhirnya pertemuan langsung Prabowo dengan IB HRS terjadi di Mekkah..
Saat itulah sebenarnya rancang bangun kekuatan oposisi mulai menemukan embrionya dengan, misalnya usulan IB HRS untuk menduetkan Prabowo sebagai Presiden dengan wakilnya dari ulama. Boleh jadi pada pertemuan itu usulan IB HRS untuk mencalonkan Habib Salim Segaf mengemuka. Karena harapan IB HRS dengan mencalonka Habib Salim Segaf, maka koalisi Gerindra-PKS pada posisi aman untuk bisa masuk Presidential Treshold 20% suara partai di parlemen..
Dalam pertemuan itupun, akhirnya mulai tercetus gagasan IB HRS, apapun dan siapapun nanti calon pendamping Prabowo akan dihasilkan melalui putusan Ij'tima' Ulama..

*Ij'tima' Ulama I dan Dinamika Politik*
Embrio gagasan IB HRS untuk melahirkan pasangan Tentara-Ulama atau Nasionalis-Relijius, sepertinya memang lahir pada saat pertemuan IB HRS dengan Prabowo di Mekkah. Pendamping Prabowo pada saat itu  adalah Amin Rais dan Fuad Bawazier.

Ij'tima' Ulama akhirnya benar diadakan pada tanggal 27-28 Juli 2018. Semua pimpinan partai politik koalisi ummat kebangsaan hadir pada waktu itu. Dua pidato penting lahir pada waktu itu, yaitu pidato IB HRS dari Mekkah yang menyebutkan dukungan para ulama untuk terbentuknya koalisi partai politik yang solid dan pentingnya Ij'tima' Ulama untuk memberikan "polititical support" yang kuat untuk melahirkan pasangan capres dan cawapres yang bisa dilahirkan dari keputusan Ij'tima' Ulama.
Sementara pidato Prabowo menyoroti komitmennya yang kuat untuk bersama para ulama dan habaib dalam satu perjuangan bersama untuk kemajuan NKRI. Pidato Prabowo, terasa fenomenal karena ungkapan tulusnya bahwa sosok IB HRS adalah benar dan berhak menyandang Imam Besar karena sebagai seorang ulama yang meneguhkan perjuangannya karena cinta pada negaranya. Karena itu, saya pun menyebut, Habib Rizieq Shihab sebagai Imam Besar, ujar Prabowo saat itu.
Ij'tima' Ulama perdana waktu itu akhirnya menghasilkan keputusan politik dengan mencalonkan dua nama untuk calon Presiden, yaitu IB HRS dan Prabowo. IB HRS langsung menyatakan tidak bersedia. Sementara untuk wakil presiden Ij'tima memutuskan dua nama, yaitu Habib Salim Segaf dan Ustadz Abdul Somad. Esoknya UAS menyatakan dirinya tidak bersedia dan menyerahkan dukungannya pada Habib Salim Segaf Aljufrie.

Dalam perkembangannya, setelah rekomendasi capres dan cawapres diperjuangkan kepada pihak koalisi partai politik, proses dinamika politik akhirnya jatuh di tangan elite partai. Dan ini tidak lepas dari pertarungan politik yang terjadi. Sampai setelah upaya terakhir pun hanya calon presiden Prabowo yang diterima, sementara calon wakil presiden habib Salim yang diusulkan akhirnya ditolak, GNPFU pun menawarkan solusi kedua, yaitu merekomendasikan ustadz Arifin Ilham dan Kiai Aa'Gym. Lagi-lagi keputusan ini pun tertolak. Dan koalisi partai politik memutuskan Sandiaga Uno sebagai wakil presiden.

Saya tidak akan memasuki wilayah dinamika politik ini. Karena saya lebih tertarik menilai reaksi GNPFU sebagai organ terpenting yang mengadakan Ij'tima' Ulama dan perjuanganya atas rekomendasi yang diembannya, setelah paket pilihan capres dan cawapres tertolak.

Reaksi yang diperlihatkan GNPFU, pastinya hasil dari arahan IB HRS. Karena itu, akhirnya diputuskan untuk mengadakan Ij'tima' Ulama II.

Ada tiga (3) kepentingan mengemuka sebagai alasan para ulama dengan arahan IB HRS untuk mengadakan Ij'tima' Ulama II.

Pertama, meletakkan kegagalan rekomendasi Ij'tima' Ulama  untuk kembali diputuskan para ulama sebagai wujud tanggungjawab.

Kedua, sebagai reaksi ulama untuk mendidik adab politik bagi politisi.

Ketiga, meletakkan kembali Ij'tima' Ulama sebagai organ terpenting dalam keteguhan prinsip perjuangan dakwah dan politik.

Walaupun ada sementara  pihak di kalangan ulama dan tokoh nasional yang ikut Ij'tima' Ulama, tetapi menyuarakan keberatan untuk diadakan Ij'tima' Ulama II, rupanya IB HRS tidak peduli dengan itu. IB HRS tetap meminta diadakannya Ij'tima' Ulama II..

Di sini, saya menilai ada dua karakter kuat yang menjadi keistimewaan sosok IB HRS, yaitu kesabaran dan keteguhan atas prinsip perjuangan..
IB HRS tahu benar berhadapan dengan politisi wajib dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan prinsip. Tanpa salah satunya yang rugi adalah ummat yang dibimbingnya.
IB HRS tahu benar, bahwa Prabowo tengah menghadapi ujian politik dari elite koalisinya..Karena itu IB HRS, walau tetap menunjukan keteguhan atas tiga alasan pentingnya Ij'tima' Ulama II, beliau juga memback-up Prabowo untuk lepas dari ujian koalisi yang dihadapinya..

Diadakannya Ij'tima' Ulama II sampai pada hari yang ditentukan, dua hari lalu dan akhirnya melahirkan Pakta Integritas adalah buah dari kesabaran dan keteguhan prinsip, bukan  pada sosok IB HRS saja, tetapi juga akhirnya memperlihatkan kesabaran Prabowo menunggu momentum yang tepat dan keteguhan seorang Prabowo untuk tidak tunduk pada permainan elite koalisinya..

*Abdullah Uwais Alatas*
- *Silaturahmi Anak Bangsa (SILABNA)*

0 Response to "Pakta Integritas : Antara Kesabaran Dan Keteguhan Prinsip IB HRS Dan Prabowo Subianto"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel