Ismail Fahmi: Analisis Mengapa #2019TetapJokowi Kalah Dari #2019GantiPresiden

Kamis, 16 Agustus 2018

Faktakini.com

ANALISIS: MENGAPA #2019TETAPJOKOWI BELUM BISA MENGEJAR #2019GANTIPRESIDEN?
Oleh : Ismail Fahmi (FB)

Ketika mencoba menganalisis tentang akun robot yang digunakan oleh kedua kubu, saya dapatkan jawaban atas pertanyaan di atas. Ceritanya begini.

DATA

Untuk mengetahui penggunaan robot di kedua kubu pasangan capres, saya gunakan dua hashtags yang menjadi andalan masing-masing. Kubu JKW-MA dengan #2019TetapJokowi, dan kubu PAS dengan #2019GantiPresiden.

Lalu kita lihat percakapan pada malam hari. Dari dini hari hingga menjelang fajar. Kita istilahkan "serangan fajar". Saya mabil data hari ini, 15 Agustus 2018, dari pukul 00:00 hingga 07:00 wib. Kita mau lihat saat orang tidur, siapa yang masih loyal dan intens bermain.

Dari trend volume percakapan per jam, kita lihat pola naik-turun yang sama. Besar volume percakapan tidak kita bahas di sini. Kita mau lihat lebih dalam, bagaimana percakapan mengandung masing2 hashtags tersebut terbangun.

SNA

SNA yang ditampilkan oleh DE ini adalah gabungan antara hashtags dengan user. Jadi kita bisa tahu, siapa user yang mempromosikan sebuah hashtags, dan relasi dengan hashtags2 lain dalam clusternya.

Dari peta SNA untuk #2019TetapJokowi, kita temukan hal menarik. Ternyata pada saat tengah malam ini, user yang paling besar mendapat retweet hanya ada 2. User anonim @JokowiFacts dan user @purwo82092883. User JokowiFacts cukup sering muncul sebagai KOL dalam cluster kubu ini. Saya tidak melihat ada akun2 besar lain pada jam-jam ini yang biasanya muncul dalam cluster JKW-MA.

Sementara itu, untuk #2019GantiPresiden, kita temukan banyak user yang mendapat retweet. Kebanyakan user anonim, seperti @RajaPurwa, @Gemacan70, dll. Mereka ini adalah KOL yang memang sering muncul dalam cluster PAS. 

RAW DATA

Untuk memperkuat bahan analisis, kita lihat raw data atau data mentah yang dimiliki DE. Kita lihat twit2 apa adanya, yang ditangkap oleh DE, pada saat menjelang pukul 02:00 dini hari. Twit ditampilkan berurutan sesuai waktu dibuatnya twit tersebut.

Dari 37 twit terakhir pada jam tersebut, hashtags #2019TetapJokowi ternyata banyak dibangun dari twit-twit dengan karakteristik seperti ini:
- isi twit sama
- nama user aneh-aneh, seperti Gerakan Memutar Ketiak, Memutar Ginjal, Memutar Kepala, dll.
- follower user yang mentwit banyak yang hanya 1 atau 0 follower
- waktu pengiriman twit yang isinya sama tersebut ternyata bersamaan, hingga ke level detik.

Sedangkan untuk hashtags #2019GantiPresiden, kita temukan karakteristik sebagai berikut:
- isi twit beragam untuk waktu pembuatan yang berurutan
- nama user relatif tidak aneh
- follower user cukup banyak, dan ada user follower 0 tapi sedikit
- waktu pengiriman sama hingga level detik, tapi isi konten yang beda

ANALISIS

Dari data di atas, saya lihat ada yang menonjol. Pada jam-jam dimana orang biasanya tidur, ternyata pola twit dan ciri user untuk hashtags #2019TetapJokowi memperlihatkan pola robot. Banyak robot digunakan khususnya untuk membuat status baru, yang isinya sama semua, sehingga pola yang tergambar di SNA relasinya sederhana.

Sedangkan untuk hashtag #2019GantiPresiden, pada jam2 tersebut masih banyak KOL atau tokoh2 utama dalam cluster yang aktif melakukan twit, dan mendapat retweet dari kawan2nya yang followernya juga banyak. Polanya tidak menggambarkan pola robot. Meski robot terdeteksi digunakan untuk meretweet.

KESIMPULAN

Kembali ke pertanyaan awal. Mengapa #2019TetapJokowi sulit untuk mengejar #2019GantiPresiden? Jawabnya ada di: MILITANSI. Pendukung hashtag kedua ini lebih militan. Meski malam-malam ketika orang sedang tidur, mereka tetap aktif dalam percakapan di medsos. Dan di antara mereka saling meretweet. 

Sebaliknya,  key opinion leader dari hashtags pertama tidak muncul. Cluster ini mengandalkan operasi robot untuk membuat hashtagsnya tetap muncul dalam percakapan.

CLOSING

Saran buat kedua kubu: hindari penggunaan robot, apalagi kalau robotnya kurang cerdas. Akan mudah dilihat, dideteksi oleh tools semacam Drone Emprit.

Robot hanya akan menaikkan oplah, namun tidak menimbukan engagement. Sehingga tidak memberi dampak yang banyak.

Sebaiknya bangun tim media sosial yang militan, real user, dengan koordinasi yang bagus, dan seling bekerjasama. Ini akan membuat engagement yang bagus, sehingga kalau tampil dalam SNA DE, akan cakep dipandang mata. Tidak ngerumpi.

Dan buat yang bayar robot, sebaiknya dicek bagaimana kinerjanya. Kalau ternyata twitnya tampak jelas cirinya oleh robot, clusternya menyendiri, sebaiknya ditegur. Diancam jangan dibayar. Begitu.

0 Response to "Ismail Fahmi: Analisis Mengapa #2019TetapJokowi Kalah Dari #2019GantiPresiden"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel