Mahfudin Nigara: Menunggu Ijtima Ulama

Selasa, 10 Juli 2018

Faktakini.com

*Menunggu Ijtima Ulama*
Oleh M. Nigara
Wartawan senior
Mantan wasekjen PWI

"TUNGGU ijtima ulama!" Begitu kalimat pendek yang terus-menerus kita dengar, kita baca, dan dikeluarkan oleh ustadz-ustadz: Abdul Somad, Arifin Ilham, Haikal Hasan dan lain-lain terkait siapa pilihan kita untuk pilpres 2019 nanti.

Sekarang, kata mereka, kita boleh membayangkan siapa saja untuk kita pilih. "Tapi, begitu Imam Besar Habib Riziek Sihab menyebut dan mendukung seseorang, maka ke sanalah pilihan kita!" pungkas ustadz Haikal.

Ya, para ustadz itu betul. Kita, mayoritas umat islam, memang membutuhkan petunjuk dari para ulama. Kita yakin betul ulama bisa memberikan petunjuk yang terbaik. Dan, kita juga paham bahwa ulama tentu menentukan hanya berdasarkan alquran dan hadist. Jadi, keputusan ijtima diyakini akan menjadi penyelamat bangsa Indonesia. Insyaa Allah.

Akhir Juli
Setelah mengalami kesulitan untuk mencari tempat penyelengaraan, akhirnya ijtima bisa diselenggarakan akhir juli. Tampatnya pun masih 'dirahasiakan' untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Ijtima awalnya akan diselenggarakan akhir Juni, lalu dimundurkan ke minggu kedua Juli. Lalu, karena belum memperoleh tempat besar untuk penyelenggaraan, alhamdulillah akhir Juli bisa juga diselenggarakan.

Rencananya ijtima akan diikuti sekitar 5000 ulama setanah air. Namun karena terkendala beberapa hal, maka peserta dibatasi menjadi 800-1500. Ini pun harus melalui seleksi yang amat ketat.

"Pake barkot tertentu dalam yang kita kirimkan? " kata ustadz Slamet Maarif, ketua umum Persaudaraan Alumni 212. Oya, sebagai catatan dari Mekah saat ramadhan lalu, saat HRS dikunjungi oleh Pak Amien Rais dan Prabowo, diumumkan secara resmi bahwa organisasi yang boleh menggunakan embel-embel 212 hanyalah yang direstui HRS. PA 212 pimpinan ustadz Slametlah yang direstui. Untuk itu, istadz Sambo yang awalnya menjadi ketua Garda 212, melebur ke dalam PA 212 pimpinan ustadz Slamet.

Kembali ke soal barkot, ustadz Slamet dan udtadz Bernad menyebutkan untuk memperkecil penyusupan. Maklum, kita juga mengetahui pihak sebelah juga punya ulama. Dan kita juga sama-sama tahu landasan ulamanya berbeda dengan landasan ulama-ulama yang akan ijtima.

"Untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan, maka kita mengirimkan undangan berikut barkotnya," katanya lagi.

"Ya, kita tidak ingin menyuruh orang seperti Ali Ngabalin di Puncak beberapa waktu lalu, terulang lagi," pungkas Ustadz Slamet.

Lalu, dari mana dananya? Dari sumber yang saya ketahui, para penggiat acara mencarinya melalui urunan atau patungan. "Tidak ada yang membiayai atau tidak ada cukongnya."

Tentang siapa yang akan didukung, PA 212 sudah mengajukan beberapa nama bacalon presiden: Habieb Riziek Sihab, Prabowo Subianto, dan TGB ( kelihatannya akan dicoret karena berpindah ke lain hati), Yusril Ihza Mahendra, dan Zulkifli Hasan.
Bakal calon wakil presiden: Ahmad Heryawan, Hidayat Murwahid, Yusril, Anies Matta, Zulkifli, Eggi Sujana, Bachtiar Nasir, Prabowo, dan Anies Baswedan.

Insyaa Allah, siapapun yang dipilih dalam ijtima, maka dialah yang harus kita dukung dan kita usahakan untuk menang. Dan kita berdoa agar Allah memilihkan yang terbaik serta diridhoi untuk didorong oleh para ulama...

0 Response to "Mahfudin Nigara: Menunggu Ijtima Ulama"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel