Adil Amanah Terpercaya

Panas

Rabu, 18 April 2018

Sudrajat Orang Sunda Asli, Bapak Sumedang Ibu Cianjur, Warga Jabar: Hayu Urang Pilih Kang Ajat Putra Jabar Asli!


Kamis, 19 April 2018

Faktakini.com, Bandung - Pantas saja apabila Warga Jawa Barat berucap: "Hayu Urang Pilih Kang Ajat Putra Jabar Asli!" , Alias "Ayo Kita Pilih Kang Ajat Putra Jabar Asli!".

Karena memang Pak Sudrajat alias Kang Ajat Cagub Jabar 2018 adalah orang Sunda asli, ayah beliau orang Sumedang dan ibu berasal dari Cianjur.

Dan merupakan konsekuensi logis bahwa di daerah manapun tempat diadakannya pemilihan kepala daerah, pasti warga masyarakat di wilayah tersebut menginginkan seorang putra daerah asli yang memenangkan Pilkada tersebut dan menjadi pemimpinnya.

Sebagaimana warga masyarakat Jabar menginginkan Sudrajat alias Kang Ajat memenangkan Pilgub Jabar 2018 dan menjadi Gubernur Jawa Barat 2018-2023.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo mengatakan dia telah kenal lama dengan Sudrajat sosok Putra Jabar asli yang juga mantan Kapuspen TNI di era Panglima Laksamana Widodo AS tersebut

Sudrajat disebut Prabowo sebagai salah satu perwira terbaik TNI yang merupakan alumni Akademi Militer (Akmil) Magelang tahun 1971. Pengumuman Sudrajat sebagai bakal cagub Jawa Barat disampaikan oleh Prabowo dalam jumpa pers di kediamannya di Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (9/12) sore.

"Sepak terjang beliau juga dikenal di TNI sebagai salah satu perwira paling cerdas. Beliau lulusan Harvard. Tak banyak TNI yang lulusan Harvard. Saya juga pingin ke Harvard. Saya pernah ke Harvard tapi hanya jalan-jalan saja dan enggak dapat ijazah," cerita Prabowo tentang sosok Sudrajat.

Sebelum memutuskan mengusung Sudrajat, Prabowo mengaku partainya telah melakukan proses panjang dan konsultasi selama berminggu-minggu. Termasuk juga melakukan seleksi dan menyaring calon-calon potensial.

"Saya tak ingin ambil keputusan sendiri dan mengikuti selera saya sendiri. Kita ingin beri pilihan terbaik untuk rakyat Jawa Barat dan kita akan terus cari pilihan-pilihan terbaik," katanya.

Selain mengumpulkan pimpinan partai, pihaknya juga berkonsultasi dan meminta masukan dari berbagai tokoh seperti ulama, tokoh masyarakat, pengusaha, purnawirawan TNI dan lainnya. Prabowo juga menjelaskan latar belakang dari Sudrajat yang menurutnya merupakan 'urang sunda asli'.

"Akhirnya kita dengan mantap kita putuskan akan mengajukan saudara Mayjen (Purn) H Sudrajat sebagai cagub Jabar yang akan datang. Beliau adalah putra Jabar asli. Bapak Sumedang, ibu Cianjur, urang Sunda asli," kata Prabowo.

Sosok Sudrajat

Nama Mayjen (purn) Sudrajat sampai saat ini tercatat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Maskapai Susi Air. Sudrajat mulai menjabat sebagai CEO usai Susi Pudjiastuti menyatakan mundur dari jabatan tertinggi tersebut.

Susi memilih mundur dari jabatan CEO karena ingin fokus menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Saya mau titipkan Susi Air kepada manajemen baru yakni Mayjen (Purn) Sudrajat. Beliau akan jadi CEO Susi Air yang baru," kata Susi dalam konferensi pers di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Susi bukan sembarangan dalam menyerahkan jabatan CEO ke Sudrajat. Susi menyebutkan pensiunan jenderal TNI bintang dua itu sebelumnya menjabat sebagai Presiden Komisaris Susi Air sejak berdiri pada tahun 2004.

Tak hanya itu, ada kenangan yang tak bisa dilupakan oleh Susi ke Sudrajat sehingga dia makin mantap bahwa pria kelahiran Sumedang itu memang sosok yang tepat menggantikannya sebagai CEO Susi Air.

"Susi Air berawal dari kantor atau pavilion di rumah Pak Sudrajat di Kebayoran Baru. History ini menjadikan kami bersama di Susi Air," kenang Susi.

Selama masih berkiprah di TNI, setelah menjabat sebagai Kapuspen TNI pada tahun 1999, Sudrajat dirotasi menjadi Staf Ahli Panglima TNI bidang ekonomi dengan masa jabatan kurang lebih satu tahun. Setelah itu, dia menjabat Dirjen Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan sampai pada tahun 2005.

Setelahnya, Sudrajat menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Tiongkok sampai tahun 2009. Sementara itu, Sudrajat merupakan salah satu deklarator ormas Nasional Demokrat (NasDem) dan menjadi Ketua DPW Jawa Barat usai tak lagi menjabat sebagai duta besar.

Namun, dia mengundurkan diri pada tahun 2011 seiring keputusan ormas yang digalang Surya Paloh itu menyatakan bertransformasi menjadi partai politik.

Program 'bebersih' dan Meikarta

Usai resmi dipilih Prabowo maju dalam Pilgub Jabar, Sudrajat telah memiliki program yang akan digunakan sebagai 'senjata' meraih simpati masyarakat Jawa Barat, yaitu program 'bebersih'.

"Bersih sampah, bersih air, bersih semuanya sama bersih-bersih korupsi," katanya menjelaskan makna 'bebersih'.

Saat pengumuman dirinya sebagai cagub Jabar pilihan Prabowo, Sudrajat tak hanya berbicara soal program. Dia bahkan telah punya rencana jauh jika pada akhirnya terpilih menjadi Gubernur di tanah Pasundan.

Sudrajat mengatakan, ingin mengubah nama Meikarta dengan nama yang mengandung unsur Jawa Barat jika nantinya terpilih. Untuk diketahui, Meikarta merupakan proyek pembangunan pusat permukiman yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

"Yang jelas yang saya pikirkan dari segi nama. Mungkin kita harus review kenapa di tengah-tengah Jawa Barat ini ada nama yang kayaknya asing daripada istilah-istilah Jawa Barat. Ini harus bisa kita review kembali," jelasnya.

Wilayah Pantura juga akan menjadi perhatiannya jika diberi kesempatan menjadi Gubernur Jabar. Tata ruang di wilayah Pantura juga akan dikaji kembali dan disesuaikan dengan perkembangan.

Dampak lingkungan dan industri juga akan diperhatikan apakah akan memberi dampak negatif terhadap lahan pertanian yang ada. "Seperti masalah banjir di Citarum. Masalah limbah-limbah dari pabrik-pabrik dan segala macamnya," ujarnya.

Dia akan berupaya mengkonsolidasikan mana daerah pertanian, industri, dan hutan lindung yang sampai sekarang makin tergerus. Ia akan mengajak bupati dan wali kota di Jabar untuk merencanakan tata ruang yang pas sehingga lingkungan tetap terjaga.

"Bagi saya adalah memimpin Jabar tidak hanya bisa diselesaikan oleh gubernur, tetapi harus kerja sama dengan seluruh stakeholders provinsi, kabupaten dan walikota," ujarnya.

Sumber: Merdeka
I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar